Cara Keren Telkomsel Membentuk Literasi Internet Indonesia

By | August 28, 2016

Data ini sungguh memprihatinkan, 90% siswa sekolah dasar kelas 4-6 di Jabodetabek diketahui pernah terpapar pornografi. Sebagian besar tidak sengaja melalui media game online 13 persen, internet 13 persen, dan handphone 5 persen. Ini hasil survei Yayasan Kita dan Buah Hati terhadap 2.064 responden siswa kelas 4-6 pada tahun lalu.

Kondisi memprihatinkan di kalangan anak-anak ini tak lepas dari kemudahan mereka mengakses internet. Entah lewat smartphone, komputer, atau laptop. Entah di rumah, di sekolah, atau di lingkungan sekitar. Per Januari 2016, ada 300 juta lebih nomor telepon seluler yang aktif. Sebanyak 88 juta aktif berinternet. Artinya sekitar 30% dari populasi Indonesia, dengan rata-rata konsumsi 4,5 jam per hari.

Indonesia memang ‘melek’ internet di satu sisi, tapi buta literasi internet di sisi lain. Inilah ciri masyarakat digital Indonesia sekarang.

“Tentang perkembangan saat ini, kami khawatir ada sebagian anak dan remaja yang bisa kebablasan memanfaatkan internet untuk hal-hal yang tidak patut dan cenderung mengganggu perkembangannya. Tentu masih ada sebagian yang menggunakan internet untuk hal-hal yang patut dan bermanfaat. Perilaku ini yang harus terus didorong,” ujar Nia prihatin.

Keprihatinan senada juga dialami oleh PT Telkomsel, anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom). Sebagai operator yang menyediakan akses internet lewat teknologi seluler/mobile, operator nomor satu dengan 157,4 juta pengguna, ini terpanggil untuk aktif melakukan aksi nyata untuk masyarakat internet di tanah air.

Rifki Syahbani, Manager CSR Environment & Ecosystem Telkomsel, mengakui saat ini broadband (internet cepat) di Indonesia semakin luas, yang didorong harga jual gadget yang semakin murah. Ditambah fenomena big data di masyarakat Indonesia yang aktif menggunakan media sosial. Bayangkan, pengguna Facebook dan Twitter Indonesia masuk kelompok lima besar di dunia.

Fenomena big data ini membawa gerbong problem di dalamnya. Mulai dari kecanduan internet, cyber bullying, dan perilaku online yang ekspresif seperti kasus Awkarin, selebriti media sosial Indonesia. Ringkasnya, ada perubahan demografi digital yang luar biasa, jika tidak dibangun kesadaran bersama, bisa berbahaya.

“Kalau tidak bergerak, fenomena ini bisa mengerikan. Semula kami bikin kampanye, tapi belum masif. Sekarang masif lewat kampanye Internet BAIK,” ujar Rifki.

Apa itu kampanye Internet BAIK?

Internet BAIK maksudnya penggunaan internet yang Bertanggung jawab, Aman, Inspiratif, dan Kreatif (BAIK). Kampanye cyber wellness ini menyasar segmen anak-anak (murid sekolah Dasar kelas 4-6) dan remaja (murid Sekolah Menengah Pertama) sebagai entry level pengguna internet. Kemudian menyasar orang tua murid dan guru yang berperan sebagai pengawas dan pendamping.

Kampanye Internet BAIK ini berlangsung selama 4 hari, yang diisi dengan kegiatan sosialisasi, workshop, seminar, pelatihan kepada siswa SD-SMP, orang tua, dan guru. Agar tidak membosankan, di kelas edukasi, siswa dan orang tua tidak hanya mendapat ilmu boleh dan tidak boleh dilakukan (Do and Don’t) dengan internet. Tapi, belajar bikin konten, aplikasi, dan lain-lain.

Diajarkan pula tata krama di media sosial, seperti harus respek dengan orang lain, tidak mengejar popularitas/pujian, serta menjunjung tinggi etika dan kepatutan. Serta tips-tips menarik seperti pembatasan waktu menggunakan internet, cerdas menggunakan smartphone, dan aplikasi produktif.

“Kami memilih membuat Internet BAIK. Jadi sebelum bicara smart city, smart country, kita bikin orangnya smart dulu. Prinsipnya, kami ingin siswa dan orang tua tidak hanya tahu gunakan internet, tapi paham mengunakannya,” ujar Rifki.Internet BAIK dilakukan di 12 kota. Kick off sudah dilakukan di Yogyakarta, 2 Agustus lalu, dan akan berakhir di Desember tahun ini. Kampanye akan menjangkau kota Tenggarong, Nunukan, Tasikmalaya, Kupang, dan Medan. Kemudian Pekanbaru, Palembang, Banyuwangi, Manokwari, Bantaeng, dan Bekasi.

Agar kampanye ini efektif dan optimal, Telkomsel menggandeng beberapa mitranya, seperti ICT Watch, Yayasan Kita dan Buah Hati, serta pengembang aplikasi parential guide, Kakatu. Bersama para mitranya, Telkomsel berharap terbentuk komunitas sosial dan mendorong lahirnya ada gerakan sosial di setiap kota sehingga kampanye internet BAIK ini semakin kuat di masyarakat.

“Buat Telkomsel, kampanye ini bagian dari upaya menjaga reputasi Telkomsel. Bagian dari program Telkomsel bikin keren Indonesia. Sebagai operator nomor satu dan paling Indonesia, kami ingin memberikan value yang bermanfaat ke pelanggan kami, masyarakat Indonesia. Telkomsel tidak sekadar cari keuntungan,” pungkasnya.

Sementara Bunda Nia dari Yayasan Kita mengakui kampanye Internet BAIK sangat perlu, mengingat perilaku berinternet bisa ke dua arah: baik dan buruk. Faktanya saat ini banyak orang tua belum sepenuhnya paham dan bisa mengikuti kecepatan perkembangan di dunia maya, sementara anak-anak lebih cepat tahu dan menguasai hal terbaru di internet. Padahal anak-anak belum matang otaknya dalam mempertimbangkan baik-buruk, benar- salah, boleh-tidak, sehingga sebenarnya mereka perlu didampingi orang tua untuk menentukan mana pilihan yang aman bagi mereka di internet.

“Jadi kampanye ini perlu untuk membantu orang tua dan guru paham soal hal-hal buruk dan baik di internet, sehingga mereka bisa membimbing anak-anaknya agar melakukan hal baik di internet,” ujar Bunda Nia.

Konsumsi internet yang tinggi tanpa literasi yang bijak, juga menjadi perhatian Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII). Rupanya asosiasi internet service provider (ISP) ini sedang menyelesaikan pembangunan Layanan Hub Pengelolaan Konten, yang akan berfungsi menyeleksi konten internet. Tujuannya, konten Internet yang akan dinikmati masyarakat Indonesia adalah konten internet yang Bersih, Selektif, dan Aman atau disingkat BERSAMA.

Menurut Henri Kasyfi, Sekjen APJII, Hub internet BERSAMA ini memungkinkan konsumen memilih konten-konten aman saat berinternet ria. Masyarakat akan dapat menikmati layanan ini melalui penyelenggara jasa internetnya masing-masing yang sudah menjadi anggota APJII, ucap Henri.

Kurikulum Internet

Kampanye Internet BAIK ini bukan hanya bertujuan siswa SD-SMP, orang tua, dan guru tahu mana yang boleh dan tidak di internet ( Do & Don’t). Harapan besarnya, anak-anak Indonesia seimbang mengonsumsi internet. Antara konsumsi gadget dan beraktivitas sosial/bermain. Antara berlaku sebagai consumer dan producer/developer.

“Tapi goal besarnya adalah mendorong pembuatan kurikulum internet di pendidikan usia dasar di Indonesia, seperti negara maju Singapura dan Korea. Contoh, Singapura punya kurikulum pendidikan internet di sekolah-sekolah dasar. Mereka menyadari perlu dibatasi paparan penggunaan gadget, dan mengembalikan manusia sebagai makhluk sosial,” ujarnya.Untuk itu, kampanye Internet BAIK ini akan terus diperkuat di masa datang, dengan memperluas cakupan kota, memperbanyak duta, dan menambah mitra strategis baik di pemerintahan maupun swasta. Kolaborasinya menjadi nasional, meski berawal dari Telkomsel.

“Internet BAIK milik semua orang, bukan milik Telkomsel, sehingga menjadi bagian di keluarga Indonesia, di masyaraakt kita, dan di sistem pendidikan nasional,” pungkasnya.
Sumber:

http://www.merdeka.com/teknologi/cara-keren-telkomsel-membentuk-literasi-internet-indonesia.html

Leave a Reply