Grab Dapat Suntikan Modal Rp 9,8 Triliun

By | September 26, 2016

KOMPAS.com – Grab mendapat suntikan dana berupa ekuitas sebesar 750 juta dollar AS atau Rp 9,8 triliun. Dana tersebut menambah kas modal Grab yang kini nilainya lebih dari 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 13 triliun.

Pendanaan seri F ini dipimpin SoftBank Capital yang dikenal royal dalam menggelontorkan dana. Jajaran investor lama kembali berinvestasi, disertai beberapa nama baru yang belum diungkap.

Menurut selentingan kabar, salah satu investor baru Grab adalah pemegang saham di layanan ride-sharing berbasis China, Didi Kuaidi. Namun, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Grab soal isu itu.

Pendiri sekaligus CEO Grab, Anthony Tan mengatakan, pendanaan terakhir ini menjadikan Grab sebagai perusahaan teknologi Asia Tenggara yang meraup investasi terbesar sepanjang sejarah.

“Ini menguatkan posisi kami untuk mencapai tujuan-tujuan jangka panjang dalam memimpin pasar,” kata dia dalam keterangan resmi yang dikutip KompasTekno, Selasa (20/9/2016) dari situs resmi Grab.

Tan juga menambahkan, kepercayaan investor tak lepas dari pencapaian yang diraih Grab sepanjang tahun lalu. Salah satunya, Grab sesumbar telah melayani rata-ratai 1,5 juta pemesanan transportasi tiap harinya.

Angka itu tersebar di enam negara dan 31 kota operasi di kawasan Asia Tenggara, melalui empat pilihan layanan: mobil pribadi, taksi, motor, dan carpooling.

Optimisme Tan diiyakan CEO sekaligus Chairman Softbank Group Corp, Masayoshi Son. Ia mengatakan sepenuhnya percaya kepada Grab setelah melihat performa bisnis startup asal Malaysia tersebut dalam menghadapi sengitnya kompetisi.

“Grab jelas merupakan pemenang di pasar Asia Tenggara. Anthony dan timnya telah menunjukkan kemajuan besar. Kami akan terus mendukung perusahaan seperti Grab untuk memelihara dan menumbuhkan ekosistem internet generasi mendatang,” ia menuturkan.

Dipakai untuk pengembangan di Indonesia

Grab bakal memproyeksikan dana investasinya ke tiga sektor pengembangan. Pertama, Grab ingin lebih agresif mengembangkan layanannya di Indonesia.

Populasi Tanah Air yang mencapai 250 juta dianggap sebagai potensi besar, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, di mana 30 juta masyarakat membutuhkan transportasi praktis untuk mobilitas padat.

Grab sesumbar layanannya di Indonesia tumbuh 250 kali dalam satu tahun, tercatat pada akhir 2015 lalu. Ke depan, Grab bakal memboyong fitur-fitur baru yang lebih disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat lokal.

Kedua, Grab ingin mengembangkan mekanisme pembayaran non-tunai GrabPay. Hal ini bertujuan memberikan solusi pembayaran mobile yang praktis bagi pengguna.

Saat ini Grab telah bekerja sama dengan Bank Mandiri di Indonesia untuk mengoperasikan fitur tersebut. Kerja sama dengan Lippo Group juga dilakukan untuk mengimplementasikan GrabPay di department store, Hypermart, kedai kopi, bioskop, dan platform e-commerce milik Lippo Group.

Ketiga, mengembangkan mekanisme kerja yang lebih efisien dengan teknologi, machine learning, dan data science. Grab mengatakan bakal terus memperkerjakan talenta-talenta terbaik untuk mengisi pos pusat riset dan pengembangan alias research and development (R&D) di Singapura, Beijing, dan Seattle.

Hal ini untuk memberikan pelayanan yang lebih baik bagi pengguna dengan cara efisien. Misalnya dalam memprediksi permintaan di daerah padat pada waktu tertentu, mengefektifkan rute pengemudi, dan menargetkan pengguna baru.

Sejak menerima pendanaan seri E pada Agustus 2015 lalu, Grab telah melipatgandakan jumlah pengguna, mitra pengemudi, dan volume pengantaran. Saat ini, aplikasi Grab telah diunduh sebanyak 21 juta kali dan lebih dari 400.000 pengemudi tersedia untuk melayani masyarakat Asia Tenggara.

Baca: Lecehkan Ojek Pangkalan, Iklan “Zombie” Grab Dikecam Netizen

Sumber:

http://tekno.kompas.com/read/2016/09/20/19100007/grab.dapat.suntikan.modal.rp.9.8.triliun

Leave a Reply