Mendesain ‘makhluk Antik’ Khas Silicon Valley

By | October 14, 2016

Dia masih muda, kira-kira umur 20 tahunan. Namun, passion di bidang coding terlihat berapi-api. Namanya Arival Sentosa. Anak muda asal Bandung ini baru saja ditasbihkan sebagai lima orang peserta terbaik decoding academy dalam program pendidikan Lenovo. Hampir setahun dia digembleng di kawah candradimuka Decoding. Dia mengakui setelah mengikuti program ini, banyak pengetahuan yang didapatkanya. Maklum, Decoding ini menyediakan kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan industri. Alhasil, dia pun kini punya startup.

“Beda banget antara kuliah dengan yang ada di sini,” ujarnya.CEO Dicoding Indonesia, Narendra Wicaksono membenarkan pernyataan dari anak didiknya itu. Kurikulum yang diterapkan bukanlah sembarang. Model perusahaan teknologi raksasa di dijadikan acuan dalam pembentukan kurikulum. Google, Microsoft, dan nama-nama besar perusahaan teknologi top dunia lainnya yang berbasis di Silicon Valley, Amerika Serikat. Semuanya itu dikemas dengan penyampaian materi menggunakan bahasa Indonesia.”Agar mudah dipahami juga nantinya,” katanya.Bukti dari keampuhan kurikulumnya ini yaitu adanya 1.000 lebih alumni yang telah bekerja di berbagai perusahaan teknologi atau membangun perusahaan rintisan digital sendiri. Maka rasanya tak salah jika Lenovo mengajak kerja sama untuk memberikan beasiswa melalui program pendidikan tersebut.”Kami memang berkomitmen untuk membantu mengembangkan industri digital lokal yang kuat,” ucap Country Lead Smarphone Division, Mobile Business Group, Lenovo Indonesia, Adrie R. Suhadi.Bila menilik lebih luas, Indonesia memang membutuhkan banyak developer canggih yang mampu mengikuti perkembangan zaman. Jika tidak, sampai kapan Indonesia akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.”Saya kasih gambaran aja, di Australia itu negara cuma ada 25 juta orang, codernya itu ada sekitar 50 ribu. Di kita dengan jumlah penduduk 250 juta orang, masih sedikit sekali. Padahal, hampir semua startup kita pasti butuh developer. Ini kayak makhluk antik aja,” paparnya.Apalagi dengan besarnya market Indonesia, menjadikan ladang basah yang semestinya bisa digarap oleh anak bangsa sendiri. Saat Narendra bertemu dengan banyak para developer luar negeri, pertanyaan yang sering dilontarkan oleh mereka adalah: Bagaimana saya bisa masuk ke pasar Indonesia? Hal itu tentu saja membuatnya merasa jika sumber daya manusia negeri perlu untuk dipoles agar kelak mampu bersaing.Menurutnya, ada tiga faktor yang membuat negeri ini kering developer. Pertama kualitas pendidikan yang masih kurang, kedua adalah kesetaraan dalam konteks pemerataan internet, dan ketiga persebaran industri yang seharusnya lebih luas lagi tidak hanya berada di kota-kota besar saja.”Dengan market yang sebesar itu, siapa kelak yang nantinya akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” jelasnya.Baca juga:
Dua startup binaan Indigo jadi finalis Program Startup Australia

Sumber:

http://www.merdeka.com/teknologi/mendesain-makhluk-antik-khas-silicon-valley.html

Leave a Reply