Pernah Dibeli Google Dan Kini Dimiliki Lenovo, Apa Pentingnya Motorola?

By | October 17, 2016

KOMPAS.com – Lenovo disinyalir segera memboyong smartphone Motorola dengan brand “Moto” ke Indonesia. Ada beberapa indikasi yang memperkuat dugaan tersebut, mulai dari kemunculan nama “Motorola” di situs sertifikasi Ditjen SDPPI, hingga laman Facebook “Moto Indonesia” yang kembali aktif.

Lenovo pun sempat mengungkap rencana itu tanpa mengumbar tanggal pastinya. Ini semua menandai 2016 sebagai tahun kembalinya smartphone Moto di Tanah Air, pasca Lenovo mengambil alih Motorola dari Google pada 2014 lalu.

Ditilik dari sejarahnya, Motorola memang tak pernah benar-benar mati meski sempat vakum dan mengubah struktur bisnisnya. Hal itu membuktikan kemampuan adaptasi Motorola terhadap berbagai pergeseran tren dan perubahan zaman.

Perusahaan yang berdiri sejak 1928 itu menjadi salah satu yang tertua dan masih bertahan hingga kini. Motorola adalah pelopor telepon genggam yang merupakan cikal bakal smartphone.

Tak kurang dari 24.500 paten dan portofolio dikantungi perusahaan asal Illinois, Amerika Serikat itu.

Pada 15 Agustus 2011, Motorola Mobillity diakuisisi Google. Raksasa Mountain View ini berani menggelontorkan duit 12,5 miliar dollar AS atau kini Rp 162 triliun.

Google-Motorola untuk ekosistem Android

Google tentu sudah memperhitungkan untung-rugi membeli Motorola yang kala itu dalam masa sulit. Ternyata, nilai utama Motorola di mata Google tak lain dan tak bukan adalah kekayaan patennya.

“Portofolio paten Motorola Mobility akan membantu ekosistem Android,” begitu tertera pada pernyataan resmi Google pasca akuisisi, sebagaimana dikutip KompasTekno, Sabtu (15/10/2016) dari situs Google.

Menurut Google, raksasa lain seperti Microsoft, Oracle, dan Apple, secara agresif menyerang Android dengan tuntutan hukum soal paten dan lisensi.

Hal ini sedikit banyak mengancam perkembangan Android sebagai sistem operasi terbuka. Untuk itu, Google mengindikasikan kekayaan paten Motorola sebagai pelindung agar perusahaan lain tak berani mengusik Android.

“Google sangat kuat di software, Motorola Mobility sangat kuat di hardware. Penyatuan keduanya akan sangat baik dan mempercepat inovasi,” kata perwakilan Google.

Meski demikian, keintiman Motorola dan Google agaknya memicu kecemburuan vendor lain yang menggunakan lisensi Android, sebagaimana dilaporkan PCMag.

Hal ini terlihat dari gencarnya beberapa vendor membangun sistem operasi non-Google pasca penyatuan Google dan Motorola. Sebut saja Samsung yang membuat Tizen dan LG dengan WebOS-nya.

Sang raksasa Cupertino pun pada akhirnya harus memilih untuk menjadi layanan sistem operasi Android yang netral bagi semua vendor.

Lenovo-Motorola dan ambisi menguasai pasar smartphone

Tiga tahun bersama Google, Motorola akhirnya dipinang Lenovo pada 2014. Nilai akuisisinya sebesar 2,91 miliar dollar AS atau sekarang Rp 37 triliun.

Menurut CEO Google yang kini menjadi CEO perusahaan induk Alphabet, Larry Page, Motorola dan Lenovo merupakan kombinasi yang pas dan bakal memperkuat posisi keduanya di industri smartphone.

“Motorola berada di tangan yang tepat. Keduanya bisa menciptakan perangkat terbaik,” kata Page dalam sebuah pernyataan resmi saat proses akuisisi rampung.

Mayoritas paten Motorola tetap dimiliki Google. Motorola sendiri memegang lisensi untuk semua portofolio, paten, dan kekayaan intelektualnya.

Dengan akuisisi oleh Lenovo, brand perangkat Motorola beserta portofolio produknya seperti Moto X, Moto G, Moto E, dan DROID, menyatu dengan Lenovo. Roadmap produk Motorola ke depan juga berjalan beriringan dengan Lenovo.

Kolaborasi kedua perusahaan handset tersebut menjadikan Lenovo sebagai produsen smartphone terbesar ketiga di dunia kala itu. Sama seperti Google, Lenovo pun melihat potensi yang besar dengan bergabungnya Motorola.

Lenovo memiliki strategi yang jelas, skala global, dan operasional yang memadai. Motorola membawa pengaruh yang besar di Amerika Serikat, pasar yang mapan, koneksi yang baik dengan operator, brand yang ikonok, portofolio yang kuat, serta tim yang hebat,” kata CEO dan Presiden Direktur Lenovo, Yang Yuanqing, melalui pernyataan resmi di situs Lenovo.

Ke depan, Lenovo berharap kombinasi bersama Motorola bisa memperkuat daya saing, mempercepat pertumbuhan, dan memenangkan pasar smartphone global.

Posisi Lenovo yang kuat di negara berkembang dan Motorola yang kuat di negara mapan seperti AS dianggap sebagai kesempatan untuk menggapai ambisi tersebut.

Di Indonesia, dua lini yang dikabarkan segera hadir adalah Moto E dan Moto M, berdasarkan kode yang tampil pada situs Ditjen SDPPI. Kode XT1663 yang tercantum dirumorkan merupakan ponsel kelas menengah Moto M generasi baru dari Motorola.

Adapun perangkat berkode XT1706 disinyalir tak lain adalah Moto E Power generasi ketiga.

Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Lenovo. Kepastian berbagai rumor dan asumsi tampaknya bakal baru bisa diketahui dalam waktu dekat.

Sumber:

http://tekno.kompas.com/read/2016/10/15/11390047/pernah.dibeli.google.dan.kini.dimiliki.lenovo.apa.pentingnya.motorola.

Leave a Reply