Tarif Interkoneksinya Turun, Tarif Ritel Telepon Belum Tentu Turun

By | September 3, 2016

Operator telekomunikasi seluler tidak serta merta menurunkan tarif yang dibebankan kepada pelanggan (tarif retail), pasca-polemik pembahasan penurunan tarif interkoneksi sebesar 26 persen di periode 2016-2018. Demikian pendapat Ridwan Effendi, Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB, dalam keterangan pers, Jumat (2/9).Menurut dia, keengganan tersebut terjadi akibat operator mencoba mencari keuntungan semata dari polemik penurunan tarif interkoneksi ini.”Alasan lainnya, keengganan Indosat, XL, Tri, dan Smartfren untuk memenuhi kewajibannya membangun jaringan telekomunikasi di seluruh pelosok Tanah Air. Selama ini, Telkomsel dan Telkom yang membangun jaringan telekomunikasi hingga ke seluruh pelosok Indonesia, bahkan hingga ke daerah perbatasan dengan negara-negara tetangga,” ujarnya.Selama ini, kata dia, Indosat, XL, Tri, dan Smartfren cenderung membangun di daerah perkotaan. Seperti XL yang melakukan managed service jaringan dengan Huawei. Akibatnya, XL tinggal membayar sewa saja kepada Huawei. Inilah alasan biaya jaringannya lebih murah.Noor Iza, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemkominfo, telah menyatakan, Surat Edaran (SE) No 1153/M.KOMINFO/PI.0204/08/2016 belum bisa diterapkan per 1 September 2016. Oleh karena itu operator telekomunikasi tetap menggunakan acuan biaya interkoneksi telepon Rp 250 per menit.Sementara Dirut Smartfren Merza Fachys, yang juga ketua umum Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), mengatakan, biaya interkoneksi diberlakukan secara business to business (B2B) atau kesepakatan masing-masing operator.Berdasarkan data yang dihimpun, biaya jaringan Indosat dan XL diketahui di bawah Rp 204 per menit, yakni biaya jaringan Indosat Rp 86 dan XL Rp 65.Sebelumnya, President Director & CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli menegaskan kembali jika pihaknya tetap akan menerapkan kebijakan penurunan tarif interkoneksi yang baru sesuai dengan SE No 1153/M.Kominfo/PI.0204/08/2016 tertanggal 2 Agustus 2016, tentang Implementasi Biaya Interkoneksi Tahun 2016.”Penurunan tarif interkoneksi ini, masyarakat akan dapat menikmati layanan telekomunikasi dengan harga yang lebih terjangkau, layanan yang lebih baik, mendorong industri telekomunikasi menjadi lebih efisien, serta menciptakan iklim kompetisi yang lebih sehat. Jika semua itu tercapai, maka pada akhirnya masyarakat akan menikmati jaringan telekomunikasi yang lebih merata sebagai penggerak ekonomi nasional,” ujarnya.Dikatakannya, Indosat Ooredoo dan beberapa operator lain telah mematuhi permintaan Pemerintah dalam SE dengan menyampaikan penyesuaian daftar penawaran interkoneksi (DPI) selambat-lambatnya 15 Agustus 2016. Dengan DPI yang sudah disesuaikan, maka dapat membuat kesepakatan dengan menggunakan tarif rujukan terbaru dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo).”Adapun untuk interkoneksi dengan operator yang belum mematuhi ketentuan SE, maka kami akan menyerahkan kepada BRTI sebagai badan yang berwenang menangani persoalan terkait dengan interkoneksi,” jelasnya dalam keterangan tertulis.Baca juga:
Sah ditunda, Kemkominfo minta tarif interkoneksi lama jadi acuan

Sumber:

http://www.merdeka.com/teknologi/tarif-interkoneksinya-turun-tarif-ritel-telepon-belum-tentu-turun.html

Leave a Reply